30 April 2026

Dari batik UMKM ke digital product — cerita pivot saya

11 tahun lalu saya jualan batik dari kamar kost. Hari ini 5 venture jalan paralel. Ini cerita pivot-nya — bukan growth hack, tapi kompounding.

Saya tidak terlahir di keluarga pebisnis. Bapak saya pegawai negeri, ibu saya guru SD. Tahun 2014, saya lulus kuliah jurusan informatika dengan IPK pas-pasan dan kerja sebagai web programmer di sebuah perusahaan kecil di Surakarta.

Gaji pertama: Rp 1,8 juta.

2015 — Dinar Batik Art

Setahun kerja, saya bosan. Bukan bosan dengan kerjanya — saya suka coding — tapi bosan karena saya tidak melihat dirinya tumbuh ke arah mana.

Saya mulai jualan batik. Bukan karena passion batik, tapi karena di Solo (tempat saya kost) batik adalah komoditas. Modal awal: Rp 500.000 dari tabungan gaji. Tempat: kamar kost 3×4 meter. Channel: Facebook Marketplace dan BBM (iya, masih jaman BBM).

Pelajaran pertama: e-commerce di Indonesia 2015 itu mostly tentang trust. Foto produk yang jelas, respons cepat, packing rapi. Itu saja.

Setelah 6 bulan, saya bisa kasih bonus ke diri sendiri Rp 5 juta. Saya pikir saya sudah jago.

2019 — Sekolahjualan.id

Bertahun-tahun jualan batik, saya sadar satu hal: banyak teman pebisnis pemula yang gagal bukan karena produknya jelek, tapi karena cara jualnya salah.

Maka saya bikin Sekolahjualan.id — awalnya cuma grup WhatsApp gratis untuk sharing. Lalu jadi mini-course. Lalu jadi komunitas.

Pelajaran kedua: kalau kamu ahli dalam suatu hal, pasti ada orang yang mau bayar kamu untuk diajarkan. Tapi kamu harus tahan diajak ngobrol gratis setahun dua tahun dulu sebelum mereka percaya bayar.

2021 — pesanyuk.id (co-founder)

Pandemi datang. Pelaku F&B kecil bingung kelola order yang tiba-tiba banyak dari WA. Bareng partner, saya bikin POS (Point of Sale) sederhana — fokus untuk warung kecil dan resto rumahan.

Pelajaran ketiga: bisnis SaaS itu bukan tentang fitur, tapi tentang siapa kamu tolong. Banyak POS yang lebih lengkap di luar. Kami menang karena audience-nya jelas: pemilik warung yang baru pertama kali pakai digital.

2022 — Habitz.id (CEO)

Anak saya lahir. Saya ingin dia tumbuh dengan kebiasaan baik tanpa saya teriak-teriak. Saya cari aplikasi, semua either terlalu corporate atau terlalu mainan. Tidak ada yang sweet spot.

Maka saya bikin sendiri.

Pelajaran keempat: bisnis terbaik adalah yang awalnya kamu buat untuk diri sendiri. Karena hanya kamu yang benar-benar tahu sakitnya.

2025 — Akademi Profit (mentor full-time)

Ini venture pertama yang saya rancang sengaja dari awal. Bukan reaktif. Setelah 10 tahun jadi serial entrepreneur, saya tahu apa yang missing di market: mentor yang masih praktik aktif, bukan yang sudah pensiun jualan dan sekarang cuma jualan kursus.

Itu yang saya tawarkan: saya ngomongin produk digital karena saya masih bikin produk digital. Saya ngomongin marketing karena saya masih bayar iklan tiap bulan.

Yang saya pelajari dari 10 tahun

1. Kompounding mengalahkan velocity. Satu venture yang konsisten 5 tahun > 5 venture yang masing-masing 1 tahun lalu mati.

2. Niche bukan musuh — niche adalah jawaban. Setiap venture saya makin spesifik audience-nya. Hasilnya makin baik.

3. Tidak ada pivot yang random. Setiap venture berikutnya ngasih leverage ke yang sebelumnya. Batik Art kasih saya skill e-commerce. Sekolahjualan kasih saya audience. POS kasih saya SaaS mentality. Habitz kasih saya product design. Akademi Profit pakai semuanya.

4. Cari yang membuat kamu bored less, bukan yang membuat kamu passionate more. Passion mati dalam 6 bulan. Sustained boredom dengan sesuatu yang kamu kuasai = ini yang bertahan 10 tahun.


Kalau kamu sedang di awal — di tahap “saya gak tau mau ngapain” — saran saya: kerjakan apa pun, asal mulai. Kamu tidak akan pernah tau jalannya akan ke mana sampai kamu jalan. Saya tidak pernah membayangkan dari batik akan ke aplikasi anak. Tapi semua step itu connect.

Mulailah. Jelek juga gak apa-apa.

Semua tulisan